Rekomendasi Game Mobile Dengan Gameplay Yang Aneh

Rekomendasi Game Mobile Dengan Gameplay Yang Aneh

Listadicibo.web.id – Mengembangkan sebuah game memang membutuhkan ide-ide yang kreatif agar dapat memberikan hal baru kepada para gamer. Baik dari sisi cerita, gameplay atau mekanisme permainan lain. Kadang developer bisa terlalu kreatif sehingga menciptakan game yang out-of-the-box. Zaman sekarang, kreativitas bisa berarti menyajikan game yang menghibur dan membantu gamer lepas penat. Berikut dibawah ini akan kami bahas mengenai rekomendasi game mobile aneh yang bisa membuat ketagihan bermain :

1. Goat Simulator
Yap, game simulasi jadi kambing. Jika kamu berpikir jadi kambing itu boring, maka kamu salah besar. Sebagai kambing tentu saja kamu nggak perlu takut jadi kriminal, jadi di game ini kamu memang diharuskan mengacak-acak seluruh kota layaknya kambing gila yang sedang mengamuk.

Kamu bisa menyeruduk orang-orang, menghancurkan fasilitas umum dan hal-hal gila lain. Game ini mengusung genre sandbox, tanpa storyline. Progress kamu akan diukur berdasarkan seberapa banyak kerusakan yang kamu perbuat di kota.

2. Short Life
Game Side Scrooling super gokil. Dari segi grafik memang terlihat biasa saja bahkan terkesan seperti game medioker. Namun, begitu kamu memainkannya, kamu pasti tidak akan berhenti. Misinya membawa sang karakter tak bernama ini selamat melewati semua jebakan-jebakan sadis yang ada di sepanjang permainan. Lantas di mana anehnya?

Tunggu hingga kamu terkena salah satu jebakan mematikannya, karakter kamu akan terbunuh secara brutal, tapi hal tersebut disajikan sang developer secara komikal. Karakter kamu akan berusaha menyelesaikan stage dengan kondisi yang memperihatinkan. Contohnya dia akan merangkak jika bagian bawah tubuhnya terpotong.

3. Troll Face Quest Series
Jika kamu anak meme, pasti mengerti apa itu troll face. Troll face adalah nama salah satu meme dengan gambar wajah tersenyum nakal, yang bermakna mengekspresikan kesenangan setelah menjahili orang.

Nah dalam game kamu harus bisa nge-troll atau kena troll. Kamu akan disuguhkan dengan mini game yang unik di setiap levelnya. Tentu saja logikamu akan dipermainkan dalam game absurd ini.

4. Dumb Ways To Die Series
Game buatan Metro Trains ini sudah sampai seri ketiga. Seperti namanya, di game ini kamu harus mencegah para karakter-karakter imut ini bunuh diri dengan tingkah konyol mereka.

Ada banyak variasi gameplay dan mini game yang disuguhkan dalam permainan. Seperti menghindari laser, mengatur suhu, mengendalikan balon udara dan jika kamu gagal maka karakter-karakter imut itu akan mati secara tragis.

5. Amateur Surgeon 4
Amateur Surgeon 4 menawarkan gameplay yang mana kamu melakukan operasi dengan cara tidak konvensional. Namamu adalah Dr. Bleed, seorang dokter abal-abal yang tidak tahu prosedur operasi sama sekali.

Dalam game ini kamu bahkan bisa melakukan operasi menggunakan peralatan rumah tangga dan benda-benda berbahaya lain. Tentu saja semua itu dikemas secara komikal sehingga terlihat lucu.

6. Hatoful Boyfriend
Sudah jadi rahasia umum bahwa Jepang merupakan negara yang berani merilis game-game unik dan eksentrik. Salah satu yang paling terkenal adalah game simulasi kencan atau biasa disebut Dating sim. Gameplay-nya pun disajikan bak Visual Novel, kita hanya diberi pilihan-pilihan yang akan bisa mengubah cerita sesuai kemauan kita.

Nah, kalau biasanya di Dating Sim kita diberikan adalah manusia. Hatoful boyfriend ini pilihan kencan adalah burung! Ya kamu adalah seorang perempuan normal di sekolahan khusus burung.

Pilihan kencan kamu mulai dari Merpati, Tekukur, Rock Dove dan banyak jenis unggas lain.

7. TTS Cak Lontong
Cak Lontong selalu menghadirkan pertanyaan-pertanyaan aneh. Kamu akan diberikan teka-teki dengan jawaban ngawur, tapi secara bersamaan juga masuk akal.

Kamu harus berpikir lebih terbuka dan kreatif dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan kocak Cak Lontong.

Baca Juga : Rekomendasi Mobile Game Yang Berkualitas

8. Amazing Katamari Damacy
Lagi-lagi satu game unik asal Jepang dapat versi mobile-nya. Dalam Katamari Damacy tugasmu hanya mengendalikan bola untuk menindas semua objek yang ada. Baik itu manusia, mobil, fasilitas umum dan benda-benda umum lain. Semua objek yang kamu tindas akan menempel padamu membuatmu semakin besar

Semakin bertambah besar, kamu nantinya juga bakal bisa menghisap gedung-gedung bahkan bisa ke luar angkasa lho!

9. Fake Slap! A Trump Game
Barangkali game ini dibuat oleh salah seorang hater dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Tujuan game ini hanya satu, yakni menampar wajah Trump secepat mungkin, untuk memperoleh skor maksimum. Nantinya, skor bisa digunakan untuk upgrade sensasi tamparan.

10. Alpaca Evolution
Cocosola selaku developer game ini sepertinya punya imajinasi yang unik soal Alpaca. Nah kamu akan mengontrol salah satu Alpaca yang terlahir sebagai mutant, tugas kamu adalah menghajar Alpaca lain dan ‘menyerap’ mereka ke tubuh kamu.

Bayangkan saja game mirip Katamari Damacy tapi lebih distrubing karena kamu adalah Alpaca kanibal yang menyerap mangsa untuk berkembang menjadi monster. Game ini sudah mencapai 8 juta download di seluruh dunia.

Game Terbaik Mobile Saat ini

Game Terbaik Mobile Saat ini

Listadicibo.web.id – Perkembangan teknologi ponsel pintar membuat banyak pengembang game berlomba untuk melakukan berbagai jenis game mobile. Hanya selama 2018, game yang tak terhitung jumlahnya untuk perangkat seluler telah diluncurkan di http://50.116.102.116/. Namun di antara semua game peluncuran ponsel tahun 2018, tentu saja ada game yang memiliki kualitas lebih baik dari yang lain.

Assassin’s Creed Rebellion
Di tahun ini, Ubisoft telah merilis sbobet dua seri Assassin’s Creed sekaligus, loh. Setelah merilis Assassin’s Creed Odyssey pada Oktober lalu, Ubisoft kemudian merilis Assassin’s Creed Rebellion pada November. Berbeda dengan Odyssey yang dirilis untuk konsol dan PC, Rebellion merupakan seri Assassin’s Creed yang tersedia khusus untuk perangkat mobile.

Usaha Ubisoft untuk menyenangkan para penggemar Assassin’s Creed layak diacungi jempol. Setelah para penggemar dibuat puas dengan Odyssey, Ubisoft berhasil menghadirkan pengalaman Assassin’s Creed yang berbeda di Rebellion. Hanya di Assassin’s Creed Rebellion, lo bisa melihat Assassin favorit lo dalam tampilan chibi. Kerennya lagi, elemen utama Assassin’s Creed, yaitu stealth, sama sekali enggak dilupakan di game ini.

Alto’s Odyssey
Setelah merilis Alto’s Odyssey di perangkat iOS pada Februari lalu, Snowman beserta Noodlecake Studios kemudian merilis game ini untuk perangkat Android pada Juli lalu. Buat lo yang belum tahu, Alto’s Odyssey merupakan sekuel Alto’s Adventure yang dirilis pada 2015. Berbeda dengan versi iOS-nya yang berbayar, Alto’s Odyssey versi Android bisa diunduh secara gratis.

Buat yang pernah main, lo pastinya setuju jika Alto’s Adventure merupakan game yang keren. Nah, Alto’s Odyssey menghadirkan berbagai hal yang jauh lebih baik lagi dari game pertamanya. Lo akan menemukan grafis yang lebih indah dari game pertamanya. Kalau lo membutuhkan sesuatu yang dapat menenangkan pikiran, game ini wajib buat lo coba. Musiknya yang menenangkan dijamin bikin lo terhanyut ke dalam gamenya.

Baca juga :

Ragnarok M: Eternal Love
Kalau lo merupakan salah satu orang yang pernah menghabiskan waktu berjam-jam main game di warnet pada awal 2000-an, lo pastinya enggak asing dengan Ragnarok Online, MMORPG besutan Gravity yang dirilis pada 2002. Nah, untuk membangkitkan kenangan para pemain versi PC-nya, Gravity kembali menghadirkan game ini dalam versi mobile dengan judul Ragnarok M: Eternal Love.

Gravity akhirnya merilis game ini di Indonesia pada Oktober lalu. Keberadaan game ini tentunya menjadi kabar baik bagi para penggemar RO. Soalnya, Ragnarok M: Eternal Love menghadirkan kembali hampir semua elemen yang ada di versi PC-nya terdahulu. Game ini dijamin bisa bikin para pemain versi PC-nya dapat bernostalgia.

Game Ragnarok Poring Pop

Game Ragnarok Poring Pop

Listadicibo.web.id – Pemain yang biasa menghabiskan waktu di warnet di awal tahun 2000-an bukanlah orang asing bagi Ragnarok Online atau slot live22. Game ini berhasil menarik banyak pemain Indonesia saat itu. Setelah sukses di PC, Ragnarok muncul di perangkat seluler dengan judul Ragnarok M: Eternal Love pada Oktober tahun lalu. Seperti versi PC, Ragnarok M: Eternal Love juga berhasil menarik pemain Indonesia pada akhir 2018.

Ragnarok memang dikenal sebagai MMORPG-nya, namun Gravity juga menghadirkan seri game ini dalam bentuk genre lainnya. CEO Gravity Interactive, Yoshinori Kitamura, telah mengumumkan perilisan seri terbaru Ragnarok yang berjudul Ragnarok Poring Pop. Gravity mengusung genre puzzle untuk game terbarunya. Game ini sudah tersedia untuk perangkat Android.

Gameplay Ragnarok Poring Pop terbilang cukup mudah. Kalian tinggal mencocokkan dua atau lebih Poring yang berdekatan dengan cara di-tap. Gameplay-nya yang sederhana membuat game ini jadi mudah dimainkan untuk semua usia.

Sesuai judulnya, RagnarokPoring Pop menjadikan salah satu makhluk imut yang ada di semesta Ragnarok, yaitu Poring, sebagai maskot utamanya. Lalu, semakin tinggi level pemain di game ini, maka semakin besar skor yang bisa kalian dapatkan. Ketika pemain mencapai rank yang tinggi, pemain bisa mendapatkan hadiah in-game di setiap minggunya.

Sebagai tambahan, pemain dapat melihat daftar rank RagnarokPoring Pop dari masing-masing negara. Hal ini dapat memungkinkan update kompetisi dalam skala internasional. Game ini juga menerapkan pembelian item premium dalam game. Item premium dalam Ragnarok Poring Pop juga bisa didapatkan dari menyaksikan iklan yang terdapat dalam game. Siapapun jadi punya kesempatan untuk mendapatkan item premium dengan mudah.

Baca juga : Senran Kagura Reflexions

Untuk sementara ini, Ragnarok Poring Pop baru tersedia di Google Play Store saja. Buat kalian yang menggunakan perangkat iOS, enggak perlu khawatir. Game ini nantinya juga bakal hadir di App Store, loh. Lalu, buat ngedapatin berbagai informasi seru seputar game lainnya, jangan lupa untuk ikuti terus KINCIR, ya!

Senran Kagura Reflexions

Senran Kagura Reflexions

Listadicibo.web.id – Apa pemain yang belum pernah mendengar nama Senran Kagura sebelumnya? Terlepas dari apakah Anda secara terbuka mengakui bahwa Anda adalah penggemar atau bahkan menyangkalnya tetapi masih lebih memperhatikan waralaba s128 Marvelous, keberadaannya benar-benar sulit untuk diabaikan. Apalagi jika Anda menyukai serial animasi Jepang dengan karakter wanita yang memiliki desain sensual. Karena ia ingin diakui atau tidak, sensualitas sebenarnya merupakan bagian integral dari nama Senran Kagura. Sesuatu yang masih mereka bawa untuk seri terakhir, yang sejak diperkenalkan, diklaim dirancang khusus untuk sakelar Nintendo.

Sudah tersedia terlebih dahulu untuk pasar Jepang dan akhirnya tersedia di pasar Barat dengan proses translasi untuk teks saja dan tidak audio, Senran Kagura Reflexions akhirnya tersedia untuk gamer Nintendo Switch yang penasaran dengan apa yang ia tawarkan. Marvelous memang mendesain game ini khusus untuk Switch dengan motivasi mendemonstrasikan apa yang bisa dilakukan kontroler unik konsol hybrid ini – Joy-Con dalam bentuk gameplay dan visual khas Senran Kagura. Anda bisa melihatnya selayaknya sebuah “versi berbeda” dari 1-2 Switch, game yang memang didesain oleh Nintendo untuk melakukan hal tersebut. Dengan harga yang terjangkau, kami memutuskan untuk ikut melompat masuk.

Kesimpulan
Maka dengan apa yang ia tawarkan, maka jelas bahwa apa yang berusaha dicapai oleh Marvelous dengan Senran Kagura Reflexions akhirnya berujung mengakar hanya pada sensualitas dan ragam aksi sugestif Asuka saja. Untuk urusan yang satu ini, mereka melontarkan kerja keras yang optimal, dari desain kostum menggoda, efek tembusan saat Anda menggunakan semprotan air, pemilihan percakapan, cerita, hingga sekedar intonasi voice acts yang siap untuk membuat hati Anda bergetar. Jika yang Anda cari adalah sebuah game dengan fan-service di tingkat tertinggi, terutama jika Anda menggemari seri Senran Kagura, maka ini adalah sebuah seri yang tepat.

Baca juga : Metro Exodus

Namun di satu sisi, sulit rasanya untuk tidak kecewa bahwa gembar-gembor yang selama ini digemborkan bahwa game ini akan menawarkan sensasi HD Rumble yang maksimal berujung tidak terbayarkan manis. Hampir di semua bagian “permainan” yang ada, sensasi yang Anda rasakan di tangan tidak lebih dari getar biasa saja. Tidak ada akurasi dan representasi sensasi yang serupa dengan kualitas 1-2 Switch misalnya, sesuatu yang sebenarnya “potensial” untuk game seperti ini. Konten yang terbatas juga pantas dipertanyakan, walaupun terhitung rasional mengingat harga game basisnya yang terhitung terjangkau.

Dengan semua daya tarik dan kelemahan tersebut, sepertinya jelas pasar seperti apa yang disasar oleh Senran Kagura Reflexions ini. Anda bisa menjadikan “Menguji HD Rumble” sebagai alasan untuk membungkus motivasi utama Anda mengapa Anda tertarik memijat karakter ninja wanita yang masih muda dengan visualisasi ala karakter anime yang kental ini.

Kelebihan

  • Fan-service super maksimal
  • Cerita yang cukup untuk membuat Anda tersenyum

Kekurangan

  • Konten terbatas
  • Cerita tidak bisa dibilang, masuk akal
  • Sensasi HD Rumble yang lemah
  • Gameplay repetitif

Cocok untuk gamer : mata keranjang, pencinta Senran Kagura

Tidak cocok untuk gamer : yang mengharapkan sensasi HD Rumble yang seharusnya, takut neraka

Metro Exodus

Metro Exodus

Listadicibo.web.id – Sangat disayangkan bahwa diskusi mengenai salah satu game yakni idnplay yang diantisipasi pada tahun 2019 ini harus didominasi oleh pertanyaan kebijakan komersial, sebuah kesalahan yang beberapa minggu sebelum rilis. Padahal sebelumnya, hampir semua percakapan yang berkaitan dengan namanya selalu penuh dengan harapan dan harapan besar tentang masalah, tidak hanya untuk kualitas visual, tetapi juga untuk kelanjutan cerita yang memancing rasa ingin tahu. Itu benar, kita berbicara tentang Metro Exodus dari 4A Games. Sekuelnya, yang akan didasarkan pada seri Metro 2035, siap membawa kita ke arah baru, sesuatu yang lebih besar, lebih luas, dan lebih tegang daripada apa yang ditawarkan pada dua seri sebelumnya. Sekarang datang kesempatan untuk mencoba game ini.

Kami sendiri memilih PC sebagai platform gaming untuk menjajal game yang satu ini. Seperti yang bisa Anda prediksi, fakta bahwa ia menjadi salah satu game andalan NVIDIA untuk menjual teknologi RTX mereka adalah salah satu motivasi terkuat. Kami sendiri memilih untuk menggunakan ASUS ROG Strix GeForce RTX 2070 untuk proses bermain dan pengambilan screenshot seperti yang bisa Anda nikmati di artikel preview ini. Semua gambar ini diambil dalam resolusi 1080p, setting visual “Extreme” (mentok kanan), dengan fitur RTX “Ray Tracing” hidup dengan kualitas Ultra. Namun sayangnya, untuk alasan yang tidak jelas, kami tidak bisa menghidupkan fitur DLSS yang juga disertakan. Opsi ini terus menerus otomatis mati ketika kami berusaha menghidupkannya.

Kesan Pertama

Sebuah cerita baru yang memungkinkan 4A Games melakukan sesuatu yang tidak pernah Anda bayangkan sebelumnya, ini sepertinya kalimat pembuka yang tepat untuk menjelaskan secara sederhana apa yang akan Anda temukan di Metro Exodus ini. Setelah selalu terikat pada kota Moscow dan semua jaringan terowongan bawah tanahnya yang gelap dan mencekam atas nama bertahan hidup, Metro Exodus kini akhirnya “membuka diri”. Plot yang berpusat pada usaha Artyom yang yakin bahwa tempat lain di dunia ini yang bisa dihuni dan bebas radiasi membuat Metro Exodus kini bergerak melewati begitu banyak tempat dengan terrain berbeda-beda. Setelah dua seri sebelumnya, Anda kini akhirnya bisa menjelajahi dunia Metro yang sesungguhnya. Dunia yang berantakan namun di sisi lain, begitu indah di saat yang sama.

Selain penyempurnaan kualitas visual yang dengan teknologi Ray-Tracing terlihat begitu realistis dan fantastis, terutama di beberapa momen dengan tata cahaya yang dramatis, Metro Exodus juga hadir dengan konsep dunia semi open-world di dalamnya.

baca juga : Game Anthem

Alih-alih linear, Anda kini disediakan sebuah lokasi luas yang bisa Anda jelajahi dengan bebas untuk mengumpulkan resource, mendapatkan equipment yang sudah pasti membantu perjalanan Anda selanjutnya, dan ekstra lore soal faksi apapun yang tengah Anda hadapi. Progress cerita bergerak dari satu area ke area yang lain dengan konsep yang serupa. Sejauh ini, ia terasa menyegarkan. Tidak lagi terkunci pada terowongan gelap dan bisa menikmati dunia Metro Exodus yang “seharusnya”, konsep seperti ini memberikan lebih banyak motivasi untuk mengeksplorasinya.

Tentu saja kompleksitas juga meningkat. Sejauh permainan kami saat menuliskan artikel preview ini, kami tidak menemukan lagi konsep toko berbasis peluru sebagai mata uang layaknya seri-seri sebelumnya. Metro Exodus lebih mendorong Anda untuk mengandalkan proses crafting untuk meracik peluru yang Anda butuhkan. Lewat meja khusus yang tersedia di beberapa lokasi, Anda juga bisa menyematkan mod spesifik untuk senjata yang Anda gunakan atau sekedar memasang equipment berbeda seperti armor dan helmet misalnya. Tenang saja, beberapa lokasi permainan masih menuntut Anda memasang topeng gas dengan limitas waktu – mekanik gameplay yang seolah mendefinisikan seri Metro itu sendiri.

Sembari menunggu waktu lebih proporsional untuk melakukan proses review mengingat progress kami yang baru mencapai area ketiga, izinkan kami melemparkan segudang screenshot di bawah ini untuk membantu Anda mendapatkan gambaran apa itu Metro Exodus. Terutama di sisi visual dengan teknologi RTX ON berkat dukungan kartu grafis ASUS ROG Strix GeForce RTX 2070 yang kami gunakan.

Game Anthem

Game Anthem

Listadicibo.web.id – Karena tidak ada alasan untuk tidak menunggu rilis, ini bisa menjadi ungkapan yang tepat untuk menjelaskan tentang Game Anthem, sebuah permainan bermain peran yang memadukan rampasan rampasan yang lahir dari tangan dingin Bioware dan EA. Dia memenangkan permainan aksi yang paling dinanti-nantikan di beberapa acara permainan raksasa selama 2018. Dia juga dikelola oleh Bioware Edmonton, pengembang seri trilogi Mass Effect, bukannya Montreal Bioware, yang sekarang telah rusak dan bergabung setelah kasus Mass Effect Andromeda . Itu juga dibangun dengan mesin Frostbite, salah satu mesin yang paling menarik dan optimal secara visual, terutama di PC. Dengan semua kombinasi yang dia suntikkan, tidak mungkin untuk tidak menunggu kehadiran Anthem dan apa yang ingin dia tawarkan.

Terlepas dari fakta bahwa dengan Frostbite Engine ia berhasil terlihat memesona dari segi visual dengan kekuatan cerita khas Bioware yang tetap menarik, game ini terasa seperti sebuah “proyek pembelajaran” bagi Bioware untuk meracik sebuah game loot shooter yang memesona. Berita buruknya? Alih-alih belajar dari Blizzard dengan Diablo 3 dan Bungie dengan Destiny, ia justru menyimpan masalah yang sempat terjadi dengan kemunculan perdana game-game tersebut. Lebih buruknya lagi? Beragam masalah teknis seperti bug dan loading time juga mengacaukan sensasi bermain yang seharusnya, menyenangkan

Baca juga : Mortal Kombat 11

Kesimpulan
Maka apa yang bisa disimpulkan dari Anthem? Bahwa untuk saat ini, ia terlihat tidak ubahnya sebuah istana pasir nan megah yang dibangun di tepi pantai. Ia terlihat begitu indah dan memesona dengan detail yang siap untuk membuat Anda jatuh hati sejak pandangan pertama, namun pada akhirnya, ia dibangun dengan pasir yang mudah retak tersampu ombak. Bentuk dan daya tariknya tidak mampu untuk membungkus banyak kelemahan yang ia miliki, bahkan di level pondasi sekalipun. Pelan tapi pasti, seiring dengan semakin banyak Anda menghabiskan waktu dengannya, Anda mulai memahami bahwa bentuknya yang megah bukanlah cermin kualitasnya yang sebenarnya. Bahwa dengan sedikit guncangan, air, dan dorongan, ia mudah runtuh. Bioware – sang peracik istana pasir ini kini berada di persimpangan jalan.

Bahwa jelas komunitas yang sudah begitu mengagumi dan mencintai istana pasir ini secara lantang terus memberikan masukan bagi sang artisan untuk membenahi dan memperkuatnya. Alasannya? Semata-mata mereka tidak ingin melihat istana pasir nan indah ini hilang tersapu ombak dengan begitu cepat. Namun untuk saat ini, sang artisan terlihat tidak banyak peduli. Tidak hanya karena pondasinya yang lemah saja, tetapi juga karena bahannya sendiri yang tidak sempurna. Ada begitu banyak kerikil besar yang tercampur dalam istana pasir tersebut, membuatnya yang sudah terlihat rapuh sejak awal semakin rapuh. Sang artisan kini tidak hanya harus bertarung melawan istananya sendiri yang mulai runtuh dan kritik para penikmatnya, tetapi juga waktu.

Berdasarkan analogi tersebut, apakah Anthem saat ini menarik untuk menghabiskan waktu dan uang Anda? Jika Anda bisa mendapatkannya via Origin Access yang harganya jauh lebih murah daripada membelinya secara satuan, tentu saja. Tetapi di sisi lain Anda tetap harus bersabar hati dan menelan semua kekecewaan yang bisa terjadi. Namun jika Anda tidak punya akses untuk itu, kami sendiri menyarankan Anda untuk menunggu. Menunggu hingga Bioware menyelesaikan masalah teknis yang ada, menunggu Bioware mengatasi masalah reward yang tidak memuaskan, menunggu Bioware memberikan roadmap konten yang lebih konsisten, dan menunggu Bioware memastikan bahwa mereka siap melakukan apa saja untuk membuat komunitas Anthem tidak tenggelam begitu saja.

Kelebihan

  • Kualitas visual memesona
  • Kelas Javelin yang unik dan berbeda
  • Sensasi menggunakan senjata memuaskan
  • Cerita lumayan keren
  • Sensasi terbang
  • OST yang cukup kuat untuk membangun atmosfer

Kekurangan

  • Penuh bug dan masalah teknis fatal
  • Loot “sampah”
  • Senjata tidak terasa kreatif
  • Reward tidak terasa memuaskan
  • Banyak konten misi yang repetitif
  • Waktu dan jumlah loading time
  • Mekanisme terbang tidak diimplementasikan banyak di sisi gameplay / strategi
  • Jangka waktu konten untuk konsep Games as Service terasa terlalu lama

Cocok untuk gamer: pencinta game dengan konsep repetitif, butuh game multiplayer untuk dimainkan bersama teman

Tidak cocok untuk gamer: yang menginginkan game loot-based shooter yang memuaskan, tidak sabar melihat loading screen dengan waktu yang lama

Mortal Kombat 11

Mortal Kombat 11

Listadicibo.web.id – Apa pemain yang belum pernah mendengar nama Mortal Kombat sebelumnya? Terlepas dari apakah Anda suka game fighting atau tidak, nama ini memiliki popularitas yang tak terbantahkan dalam industri game. Secara konsisten gigih, citranya sebagai game pertempuran yang menonjolkan kebrutalan sebagai titik penjualan utama terus bertahan di generasi konsol. Anda mungkin berpikir bahwa suatu saat, ini akan menjadi membosankan dan tidak akan menarik lagi, terutama mengingat bahwa kekerasan bukan lagi sesuatu yang aneh dalam permainan modern saat ini. Namun Mortal Kombat terus berkembang. Puncaknya sekarang berada di pundak Mortal Kombat 11, yang menerima sambutan positif dari berbagai media, tetapi memicu kritiknya sendiri dari para penggemar.

Seperti kualitas yang sudah mereka perlihatkan di Injustice 2 sebelumnya, ia mengusung sisi presentasi visual yang memesona. Tidak hanya dari detail beragam kostum untuk setiap karakter yang ada, tetapi juga lewat sisi sinematik mode cerita yang kembali layaknya film layar lebar dari tangan Hollywood, lengkap dengan animasi Fatality dan jenis serangan baru – Fatal Blow yang brutal. Namun sayangnya, ada satu masalah sudah terasa sejak awal Anda mencicipinya. Bahwa untuk mendapatkan semua hal yang Anda inginkan di Mortal Kombat 11, Anda harus bersiap untuk melewati proses grinding yang benar-benar berat.

Kesimpulan
Mortal Kombat 11 sebenarnya adalah sebuah seri yang memukau, bahkan pantas disebut sebagai salah satu seri Mortal Kombat terbaik di sejarah panjang franchise yang satu ini. Netherrealm Studios sepertinya memahami apa yang membuat game fighting terbrutal ini begitu dicintai, membuatnya lebih modern dengan kualitas visualisasi memesona yang juga didukung dengan desain memanjakan mata, dari level pertarungan hingga puluhan kostum untuk tiap karakter, serta menghadirkan beberapa inovasi seperti Fatal Blow yang memang signifikan hingga sistem pertarungan grup ala RAID yang secara mengejutkan, ternyata bisa diimplementasikan di sebuah game fighting.

baca juga : Fallen Legion

Namun di sisi lain, sulit rasanya untuk tidak mengakui bahwa mereka juga memuat begitu banyak hal lain yang membuat Anda mengernyitkan dahi. Atas nama untuk membuat waktu permainan Mortal Kombat 11, game fighting ini terasa begitu grindy. Semuanya dikembangkan untuk memastikan Anda berjuang setengah mati untuk meraih setiap item kosmetik, animasi, variasi ikon, hingga gear-gear mantap yang tentu akan mempengarui status dan memperkuat Anda saat memasuki Towers of Time atau bertarung secara online. Semuanya dibangun di atas sistem yang tidak memungkinkan Anda untuk membuka dan mengejar apa yang Anda inginkan untuk karakter yang Anda favoritkan. Modifier yang membuat pertarungan timpang dan tidak masuk akal juga jadi masalah tersendiri.

Tetap di luar kekurangan itu semua, Mortal Kombat 11 tetaplah sebuah seri game fighting dengan mekanik solid yang siap menjanjikan pertarungan yang seru dan berimbang. Cukup untuk membuat para fans lawas Mortal Kombat untuk jatuh cinta kembali.

Kelebihan

  • Kualitas visualisasi memesona
  • Desain kostum dan level yang ada
  • Sistem AI Battle untuk meringankan proses grinding item kosmetik dan gear
  • Mekanik pertarungan memuaskan
  • Group Battle / Tag Team Battle yang keren
  • Fatal Blow dan Fatality dengan brutalitas tanpa kompromi
  • Cerita menarik
  • Waktu gameplay panjang jika Anda ingin mengejar ragam item kosmetik yang ada
  • Konsep Krypt terhitung unik

Kekurangan

  • Grindy
  • Beberapa modifier terasa sangat tidak masuk akal untuk ditundukkan
  • Animasi Fatal Blow terkadang merebut intensitas pertempuran
  • Tidak tersedia shortcut respon di pertempuran Group Battle / Tag Team bersama gamer lain
  • Tidak tersedia secara resmi di Indonesia

Cocok untuk gamer: penggemar Mortal Kombat, yang menginginkan game fighting dengan mekanik yang memuaskan

Tidak cocok untuk gamer: yang mudah pusing melihat darah atau potongan tubuh, tidak senang dengan proses grinding

Fallen Legion

Fallen Legion

Listadicibo.web.id – Industri kreatif mungkin bukan salah satu industri yang mendapat perhatian besar dari pemerintah. Bahwa di tengah-tengah potensi besar itu, tidak banyak bicara dan digunakan sebagai fokus, terutama untuk industri game. Meskipun ada banyak penelitian tentang game lokal yang sudah mulai terbukti berhasil sebagai kekuatan yang tidak bisa diremehkan, baik di bidang platform mobile atau domestik, seperti konsol atau PC. Kami dapat bertemu game seperti Dreadout, Orbiz atau Legrand Legacy. Tetapi ada judul yang berhasil melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh permainan Indonesia lainnya. Benar sekali, berhasil memasuki pasar konsol, lebih tepatnya Playstation 4.

Hampir sebagian besar game racikan developer Indonesia saat ini memang tersedia setidaknya untuk dua platform – mobile ataupun PC. Namun yang dilakukan oleh developer asal Indonesia – Mintsphere dengan game mereka – Fallen Legion memang pantas dihitung sebagai pencapaian tersendiri. Berhasil menjalin kerjasama dengan Sony Interactive Entertainment, game racikan mereka dirilis di dua platform berbeda yang masing-masing darinya, menawarkan perspektif berbeda untuk satu jalinan cerita yang sama. Ada “Sins of an Empire” untuk Playstation 4 dan “Flames of Rebellion” untuk PS Vita. Kami sendiri berkesempatan untuk menjajal Sins of an Empire.

Lantas, apa yang ditawarkan oleh Fallen Legion: Sins of an Empire ini? Mengapa kami menyebutnya sebagai game yang pantas dibanggakan? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.

Plot
Baik Sins of an Empire maupun Flames of Rebellions sebenarnya mengusung satu garis cerita yang sama, namun dilihat dari dua perspektif yang berbeda. Sins of an Empire memosisikan Anda sebagai seorang putri kerajaan bernama Cecille. Menemukan ayahnya telah tewas, tampuk kepemimpinan kerajaan kini terletak di pundaknya. Berita buruknya? Ayahnya sendiri tidak meninggalkan Fenumia dalam keadaan yang bisa terbilang “sehat”. Kini Cecille punya tugas super berat untuk memastikan Fenumia tidak runtuh menjadi sekedar nama dan abu.

Ancaman datang dari berbagai arah. Dengan tiada laginya ayahnya yang kharismatik, Cecille harus berjuang memimpin Fenumia yang ternyata, dirudung banyak masalah internal. Intrik politik dalam keluarga dan sosok penting di dalamnya berpotensi untuk menekan kepentingan rakyat-rakyat kecil. Sementara di sisi lain, pemberontakan dan ancaman invasi dari kerajaan yang lain juga terbuka lebar. Berita baiknya? Di bawah bantuan Maurice – sang penasihat yang setia dan bijaksana, Cecille menemukan kekuatan baru yang berbeda. Ia kini ditemani sebuah buku magis bernama Grimoire yang dulu ternyata, sempat menemani sang ayah.

Baca juga : Berperang Dengan Pangeran Diponegoro

Buku yang bisa berbicara tersebut memberikan kesempatan bagi Cecille untuk mengakses ruang energi para prajurit yang sudah tewas dan membawa mereka kembali sebagai “Exemplars”, untuk menemaninya mencapai tujuan utamanya – mengembalikan lagi keanggunan dan ketangguhan Fenumia sebagai sebuah kerajaan. Namun di sisi lain, Grimoire juga membutuhkan asupan energi berupa nyawa manusia di beberapa titik. Mengandalkannya sebagai tumpu harapan, Cecille perlahan namun pasti, mulai menyadari peran Grimoire yang sebenarnya.

Lantas, mampukah Cecille mengembalikan kekuatan Fenumia sebagai kerajaan? Tantangan seperti apa saja yang harus ia hadapi? Siapa pula jati diri Grimoire yang sesungguhnya? Semua pertanyaan ini bisa Anda jawab dengan memainkan Fallen Legion: Sins of an Empire ini.

Kesimpulan
Fallen Legion: Sins of an Empire adalah sebuah game RPG yang solid. Bahwa pujian pantas dilayangkan untuknya, bukan karena semata ia merupakan game racikan developer Indonesia saja, tetapi karena Mintsphere berhasil melahirkan sebuah game RPG yang menarik dan memukau, terutama dari sisi gameplay. Dunia fantasi yang diracik tangan dengan pendekatan visual ala Vanillaware menjadi pondasi untuk eksekusi sistem gameplay yang matang, dimana Anda akan merasakan intensitas ala game action di atas mekanik RPG-nya yang super aktif. Desain dunia, monster, hingga musik yang mengalun darinya memperkuat atmosfer fantasi yang ada.

Namun tentu saja, game ini tidak bisa dibilang sempurna. Salah satu keluhan utama mengalir dari sensasi RPG yang terlalu linear. Memberikan kontrol dan kebebasan yang minim bagi gamer memang berhasil membuatnya terasa sederhana, namun sayangnya, juga mencabut beragam potensi hal menarik yang bisa diracik darinya. Minimnya cut-scene juga membuat ceritanya sulit untuk menghasilkan kesan yang kuat dan emosional, terlepas dari tema yang sebenarnya terhitung serius dan gelap.

Namun terlepas dari semua kekurangan yang menyelimutinya, Fallen Legion: Sins of an Empire tetaplah sebuah game racikan developer Indonesia yang pantas untuk dibanggakan. Kami sendiri melihatnya sebagai sebuah pondasi yang sudah begitu kuat dengan harapan untuk sebuah seri sekuel di masa depan dengan penyempurnaan di beragam sisi untuk menjadikannya produk RPG yang “lebih RPG”. Fallen Legion: Sins of an Empire saat ini tersedia untuk Playstation 4 Reg 1 (Amerika Serikat).