Fallen Legion

Fallen Legion

Listadicibo.web.id – Industri kreatif mungkin bukan salah satu industri yang mendapat perhatian besar dari pemerintah. Bahwa di tengah-tengah potensi besar itu, tidak banyak bicara dan digunakan sebagai fokus, terutama untuk industri game. Meskipun ada banyak penelitian tentang game lokal yang sudah mulai terbukti berhasil sebagai kekuatan yang tidak bisa diremehkan, baik di bidang platform mobile atau domestik, seperti konsol atau PC. Kami dapat bertemu game seperti Dreadout, Orbiz atau Legrand Legacy. Tetapi ada judul yang berhasil melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh permainan Indonesia lainnya. Benar sekali, berhasil memasuki pasar konsol, lebih tepatnya Playstation 4.

Hampir sebagian besar game racikan developer Indonesia saat ini memang tersedia setidaknya untuk dua platform – mobile ataupun PC. Namun yang dilakukan oleh developer asal Indonesia – Mintsphere dengan game mereka – Fallen Legion memang pantas dihitung sebagai pencapaian tersendiri. Berhasil menjalin kerjasama dengan Sony Interactive Entertainment, game racikan mereka dirilis di dua platform berbeda yang masing-masing darinya, menawarkan perspektif berbeda untuk satu jalinan cerita yang sama. Ada “Sins of an Empire” untuk Playstation 4 dan “Flames of Rebellion” untuk PS Vita. Kami sendiri berkesempatan untuk menjajal Sins of an Empire.

Lantas, apa yang ditawarkan oleh Fallen Legion: Sins of an Empire ini? Mengapa kami menyebutnya sebagai game yang pantas dibanggakan? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.

Plot
Baik Sins of an Empire maupun Flames of Rebellions sebenarnya mengusung satu garis cerita yang sama, namun dilihat dari dua perspektif yang berbeda. Sins of an Empire memosisikan Anda sebagai seorang putri kerajaan bernama Cecille. Menemukan ayahnya telah tewas, tampuk kepemimpinan kerajaan kini terletak di pundaknya. Berita buruknya? Ayahnya sendiri tidak meninggalkan Fenumia dalam keadaan yang bisa terbilang “sehat”. Kini Cecille punya tugas super berat untuk memastikan Fenumia tidak runtuh menjadi sekedar nama dan abu.

Ancaman datang dari berbagai arah. Dengan tiada laginya ayahnya yang kharismatik, Cecille harus berjuang memimpin Fenumia yang ternyata, dirudung banyak masalah internal. Intrik politik dalam keluarga dan sosok penting di dalamnya berpotensi untuk menekan kepentingan rakyat-rakyat kecil. Sementara di sisi lain, pemberontakan dan ancaman invasi dari kerajaan yang lain juga terbuka lebar. Berita baiknya? Di bawah bantuan Maurice – sang penasihat yang setia dan bijaksana, Cecille menemukan kekuatan baru yang berbeda. Ia kini ditemani sebuah buku magis bernama Grimoire yang dulu ternyata, sempat menemani sang ayah.

Baca juga : Berperang Dengan Pangeran Diponegoro

Buku yang bisa berbicara tersebut memberikan kesempatan bagi Cecille untuk mengakses ruang energi para prajurit yang sudah tewas dan membawa mereka kembali sebagai “Exemplars”, untuk menemaninya mencapai tujuan utamanya – mengembalikan lagi keanggunan dan ketangguhan Fenumia sebagai sebuah kerajaan. Namun di sisi lain, Grimoire juga membutuhkan asupan energi berupa nyawa manusia di beberapa titik. Mengandalkannya sebagai tumpu harapan, Cecille perlahan namun pasti, mulai menyadari peran Grimoire yang sebenarnya.

Lantas, mampukah Cecille mengembalikan kekuatan Fenumia sebagai kerajaan? Tantangan seperti apa saja yang harus ia hadapi? Siapa pula jati diri Grimoire yang sesungguhnya? Semua pertanyaan ini bisa Anda jawab dengan memainkan Fallen Legion: Sins of an Empire ini.

Kesimpulan
Fallen Legion: Sins of an Empire adalah sebuah game RPG yang solid. Bahwa pujian pantas dilayangkan untuknya, bukan karena semata ia merupakan game racikan developer Indonesia saja, tetapi karena Mintsphere berhasil melahirkan sebuah game RPG yang menarik dan memukau, terutama dari sisi gameplay. Dunia fantasi yang diracik tangan dengan pendekatan visual ala Vanillaware menjadi pondasi untuk eksekusi sistem gameplay yang matang, dimana Anda akan merasakan intensitas ala game action di atas mekanik RPG-nya yang super aktif. Desain dunia, monster, hingga musik yang mengalun darinya memperkuat atmosfer fantasi yang ada.

Namun tentu saja, game ini tidak bisa dibilang sempurna. Salah satu keluhan utama mengalir dari sensasi RPG yang terlalu linear. Memberikan kontrol dan kebebasan yang minim bagi gamer memang berhasil membuatnya terasa sederhana, namun sayangnya, juga mencabut beragam potensi hal menarik yang bisa diracik darinya. Minimnya cut-scene juga membuat ceritanya sulit untuk menghasilkan kesan yang kuat dan emosional, terlepas dari tema yang sebenarnya terhitung serius dan gelap.

Namun terlepas dari semua kekurangan yang menyelimutinya, Fallen Legion: Sins of an Empire tetaplah sebuah game racikan developer Indonesia yang pantas untuk dibanggakan. Kami sendiri melihatnya sebagai sebuah pondasi yang sudah begitu kuat dengan harapan untuk sebuah seri sekuel di masa depan dengan penyempurnaan di beragam sisi untuk menjadikannya produk RPG yang “lebih RPG”. Fallen Legion: Sins of an Empire saat ini tersedia untuk Playstation 4 Reg 1 (Amerika Serikat).

Related posts